FIKA RIA SANTIKA:
Pengalaman Perasaan, Fikirkan dan Eksekusi
Seniman perempuan Fika Ria Santika mengikutkan sembilan karya
seni dalam pameran tunggalnya kali ini, berupa; dua dimensi, tiga dimensi, juga
video memiliki suara (musik) yang diproyeksikan pada karya tertentu, ditata untuk
mengisi ruang pamer (kosong) di Tembi Rumah Budaya. Serta yang akan mengisi
otak melalui tangkapan indera kita yang
juga turut mengisi ruang pamer tersebut.
Sejalan dengan tajuk pemeran “[space]”, ia menyiratkan
secara samar berdasarkan kondisi ruangan pameran yang kosong ia memikirkan
untuk diisi dengan apa dan ditata bagaimana ruang tersebut. Seperti tulisan
ini, saya melanjutkan dengan kata-kata berikutnya setelah ada spasi (space)
sebelumnya, dicari kata-kata yang cocok, dapat dibayangkan jika kata-kata sama
dari awal sampai akhir dan tidak adanya spasi dalam tulisan ini, saya sendiri
akan bingung, apalagi Anda malah tambah mumet
membacanya.
Banyak lagi persoalan keseharian yang berkaitan dengan
[space] tersebut, akan tetapi berdasarkan yang telah saya ceritakan di atas
saja sudah banyak pengertian yang dapat ditarik. Misalnya, ruang dalam artian
sebenarnya seperti ruang pameran, ruang antara yang terdapat dari satu kata ke
kata selanjutnya dalam sebuah tulisan. Pun kalau masih merasa kurang, saya
tambahkan. Dalam berbagai referensi seni rupa, kita sering mendapati seniman A
berkarya berdasarkan konsep tertentu; sosial-politik, agama, fenomena feminist,
mass media, kemelaratan bangsa bekas jajahan. Juga seniman B atas penaklukan
material, penggalian bentuk-bentuk artifisial, praktek presentasi karya
(ekshibitif) yang mematangkan pasar, kurator. Pendeknya, ada yang dihantam,
ditampar, dimarahi, dimusuhi dan juga dibela dengan penuh semangat.
Berkemungkinan ruang antara ini lah salah satu yang dimaksud oleh Santika (?).
Sebelum cerita ini lebih lanjut, berhubung Santika adalah
seniman perempuan, saya rasa tidak ada salahnya menerka kebiasaan seniman
perempuan selama ini. Untuk itu saya sedikit melacak jejak perkembangan seniman
perempuan yang telah ada rata-rata kecenderungan mereka mengikuti arus
pemikiran fenomena feminist. Barbara Kruger, Lynda Benglis, Louise Bourgeois,
Shigeko Kubota, Jenny Saville (b;1970) salah satu perupa portraiture perempuan,
mengaji tubuh berdasarkan pandangan feminist dengan penggambaran tubuh
perempuan yang “dirusak” sehingga menimbulkan kesan jijik atau menakutkan.
Walaupun kerjanya kurang lebih sama dengan Cindy Sherman (b;1954)—secara
konsep—lebih dahulu dari Saville. This
may in part be a feminist phenomenon, a reaction againts centuries of painting
the female nude by men for the delection of other men. Obesity is the shock
tactic she uses to force viewers into an examination of convetional notions of
female beauty. Concepts relating to desired streotypes of the female beauty…
[1]
Serta jejak seniman dan sastrawati(perempuan) di Indonesia
tetap berdasarkan perspektif perempuan (persoalan gender); Nh. Dini, Djenar
Mahesa Ayu, Tita Rubi, I G K Murniasih, Arahmaini , Bunga Jeruk, Laksmi
Shitaresmi, dan masih banyak perempuan lainnya. Seniman tersebut ada yang masih
berlanjut sampai sekarang membahas gender serta ada pula dalam bentuk lain.
Ada perlunya kita mengenal Santika terlebih dahulu, guna
mencari faktor yang membuat ia tidak ikut larut dalam persoalan gender tersebut
dan nantinya turut membentuk pemikiran serta strategi visual karyanya. Ia tiga
tahun belakangan ini berkarya di Jogja, dulunya lahir dan besar di Minangkabau,
saya mengetahui di sana kebudayaan dengan sistem matriakat telah menyatu dengan
kedatangan beberapa agama yang berdasarkan patriakat, terakhir agama Islam yang
mampu selaras dengan kebudayaan setempat.
Berdasarkan kebudayaan dan agamanya telah membentuk
kesetaraan (equality) gender di sana, dengan kata lain ia tidak mengalami
perlakuan-perlakuan terhadap perempuan seperti umumnya perempuan yang besar
dalam kebudayaan patriakat dan agama patriakat juga. Ia pernah bercerita pada
saya: melihat laki-laki bekerja di dapur [bukti—rumah masakan Padang yang
memasak adalah laki-laki—tentunya belajar di rumah dahulu], melihat ibuk-ibuk
membawa cangkul pergi ke sawah, mengetahui seorang perempuan jadi pemimpin
perang melawan penjajah [Rasuna Said], pernah membaca tentang seniman perempuan
patung pertama di Indonesia [Huriah Adam--karyanya monumen di kota Bukittinggi][2],
ia ikut mendaki gunung bersama teman laki-lakinya dengan sepengetahuan orang di
sekitarnya. Intinya, ia menyadari kodrat perempuan bukan hasil dari
streotipe-streotipe bentukan kaum-kaum patriakat dan ia juga tidak pernah
merasa/mengalami “ketersudutan” karena jenis kelaminnya. Jika Santika mencoba
untuk berada di ruang antara, artinya ia tidak mungkin mengikuti arus yang
telah dibentuk oleh seniman perempuan sebelumnya – gender.