FIKA RIA SANTIKA:
Pengalaman Perasaan, Fikirkan dan Eksekusi
Sejalan dengan tajuk pemeran “[space]”, ia menyiratkan
secara samar berdasarkan kondisi ruangan pameran yang kosong ia memikirkan
untuk diisi dengan apa dan ditata bagaimana ruang tersebut. Seperti tulisan
ini, saya melanjutkan dengan kata-kata berikutnya setelah ada spasi (space)
sebelumnya, dicari kata-kata yang cocok, dapat dibayangkan jika kata-kata sama
dari awal sampai akhir dan tidak adanya spasi dalam tulisan ini, saya sendiri
akan bingung, apalagi Anda malah tambah mumet
membacanya.
Banyak lagi persoalan keseharian yang berkaitan dengan
[space] tersebut, akan tetapi berdasarkan yang telah saya ceritakan di atas
saja sudah banyak pengertian yang dapat ditarik. Misalnya, ruang dalam artian
sebenarnya seperti ruang pameran, ruang antara yang terdapat dari satu kata ke
kata selanjutnya dalam sebuah tulisan. Pun kalau masih merasa kurang, saya
tambahkan. Dalam berbagai referensi seni rupa, kita sering mendapati seniman A
berkarya berdasarkan konsep tertentu; sosial-politik, agama, fenomena feminist,
mass media, kemelaratan bangsa bekas jajahan. Juga seniman B atas penaklukan
material, penggalian bentuk-bentuk artifisial, praktek presentasi karya
(ekshibitif) yang mematangkan pasar, kurator. Pendeknya, ada yang dihantam,
ditampar, dimarahi, dimusuhi dan juga dibela dengan penuh semangat.
Berkemungkinan ruang antara ini lah salah satu yang dimaksud oleh Santika (?).
Sebelum cerita ini lebih lanjut, berhubung Santika adalah
seniman perempuan, saya rasa tidak ada salahnya menerka kebiasaan seniman
perempuan selama ini. Untuk itu saya sedikit melacak jejak perkembangan seniman
perempuan yang telah ada rata-rata kecenderungan mereka mengikuti arus
pemikiran fenomena feminist. Barbara Kruger, Lynda Benglis, Louise Bourgeois,
Shigeko Kubota, Jenny Saville (b;1970) salah satu perupa portraiture perempuan,
mengaji tubuh berdasarkan pandangan feminist dengan penggambaran tubuh
perempuan yang “dirusak” sehingga menimbulkan kesan jijik atau menakutkan.
Walaupun kerjanya kurang lebih sama dengan Cindy Sherman (b;1954)—secara
konsep—lebih dahulu dari Saville. This
may in part be a feminist phenomenon, a reaction againts centuries of painting
the female nude by men for the delection of other men. Obesity is the shock
tactic she uses to force viewers into an examination of convetional notions of
female beauty. Concepts relating to desired streotypes of the female beauty…
[1]
Serta jejak seniman dan sastrawati(perempuan) di Indonesia
tetap berdasarkan perspektif perempuan (persoalan gender); Nh. Dini, Djenar
Mahesa Ayu, Tita Rubi, I G K Murniasih, Arahmaini , Bunga Jeruk, Laksmi
Shitaresmi, dan masih banyak perempuan lainnya. Seniman tersebut ada yang masih
berlanjut sampai sekarang membahas gender serta ada pula dalam bentuk lain.
Ada perlunya kita mengenal Santika terlebih dahulu, guna
mencari faktor yang membuat ia tidak ikut larut dalam persoalan gender tersebut
dan nantinya turut membentuk pemikiran serta strategi visual karyanya. Ia tiga
tahun belakangan ini berkarya di Jogja, dulunya lahir dan besar di Minangkabau,
saya mengetahui di sana kebudayaan dengan sistem matriakat telah menyatu dengan
kedatangan beberapa agama yang berdasarkan patriakat, terakhir agama Islam yang
mampu selaras dengan kebudayaan setempat.
Berdasarkan kebudayaan dan agamanya telah membentuk
kesetaraan (equality) gender di sana, dengan kata lain ia tidak mengalami
perlakuan-perlakuan terhadap perempuan seperti umumnya perempuan yang besar
dalam kebudayaan patriakat dan agama patriakat juga. Ia pernah bercerita pada
saya: melihat laki-laki bekerja di dapur [bukti—rumah masakan Padang yang
memasak adalah laki-laki—tentunya belajar di rumah dahulu], melihat ibuk-ibuk
membawa cangkul pergi ke sawah, mengetahui seorang perempuan jadi pemimpin
perang melawan penjajah [Rasuna Said], pernah membaca tentang seniman perempuan
patung pertama di Indonesia [Huriah Adam--karyanya monumen di kota Bukittinggi][2],
ia ikut mendaki gunung bersama teman laki-lakinya dengan sepengetahuan orang di
sekitarnya. Intinya, ia menyadari kodrat perempuan bukan hasil dari
streotipe-streotipe bentukan kaum-kaum patriakat dan ia juga tidak pernah
merasa/mengalami “ketersudutan” karena jenis kelaminnya. Jika Santika mencoba
untuk berada di ruang antara, artinya ia tidak mungkin mengikuti arus yang
telah dibentuk oleh seniman perempuan sebelumnya – gender.
[1]
Robin Gibson, Painting The Century: 101
portrait masterpieces 1900-2000, p.252
[2]
Erfahmi, Tesis : Perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat, 2009.
Besar Hendak
Menindih
Menyontoh apa yang dikerjakan ibu sangat wajar bagi bayi
yang baru lahir, kadang kala setelah dewasa bisa jadi berbeda ataupun malahan
[mungkin] sama dengan ibunya. Dan sangat mengherankan jika orang di generasi
berbeda (Ibu-Anak) bisa persis sama di zaman yang berbeda pula. Begitu juga
ketika kita memasuki “dunia baru” lainnya. Senirupa misalnya, awal-awal
mengenal senirupa menyontoh sang guru serta seniman lainnya saya rasa sangat
wajar, setelah dijalani beberapa tahun masih menyontoh berarti ada yang salah
dengan perkembangan kesenian seniman tersebut.
Untuk itu saya sedikit melacak jejak perkembangan seniman
perempuan selama ini, saya melihat ada kecenderungan mengikuti arus pemikiran
fenomena feminist. Jenny Saville (b;1970) salah satunya sebagai perupa
portraiture perempuan, mengaji tubuh berdasarkan pandangan feminist dengan
penggambaran tubuh perempuan yang “dirusak” sehingga menimbulkan kesan jijik
atau menakutkan. Walaupun kerjanya kurang lebih sama dengan Cindy Sherman (b;1954)—secara
konsep—lebih dahulu dari Saville. This
may in part be a feminist phenomenon, a reaction againts centuries of painting
the female nude by men for the delection of other men. Obesity is the shock
tactic she uses to force viewers into an examination of convetional notions of
female beauty. Concepts relating to desired streotypes of the female beauty…
[1]
Serta jejak seniman dan sastrawati [perempuan] di Indonesia
tetap berdasarkan perspektif perempuan juga (persoalan gender); Nh. Dini,
Djenar Mahesa Ayu, Tita Rubi, I G K Murniasih, Arahmaini , Bunga Jeruk, Laksmi
Shitaresmi, dan masih banyak perempuan lainnya. Seniman tersebut ada yang masih
berlanjut sampai sekarang membahas gender serta ada pula dalam bentuk lain.
Fika Ria Santika (panggil--Pika), mencoba untuk tidak
mengikuti arus yang telah dibentuk oleh seniman perempuan [gender] sebelumnya.
Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi saya, apakah dia hanya sekedar tidak mau
mengikuti arus utama (mainstream) bikinan seniman perempuan sebelumnya? Atau ada
faktor lain yang membuat dia tidak ingin berbicara perihal gender dari
perspektif dia sebagai perempuan?
Ada perlunya kita mengenal Pika terlebih dahulu, guna
mencari faktor yang membuat dia tidak ikut larut dalam persoalan gender
tersebut dan nantinya turut membentuk pemikiran serta strategi visual karyanya.
Pika dua tahun belakangan ini berkarya di Jogja (sambil kuliah di ISI), dulunya
lahir dan besar di Minangkabau, saya mengetahui di sana kebudayaan dengan
sistem matriakat telah menyatu dengan kedatangan beberapa agama yang
berdasarkan patriakat, terakhir agama Islam yang mampu selaras dengan
kebudayaan setempat [dialami oleh Pika].
Jadi kebudayaan dan agamanya telah membentuk kesetaraan
(equality) gender di sana, dengan kata lain dia tidak mengalami perlakuan-perlakuan
terhadap perempuan seperti umumnya perempuan [saya sebutkan sebelumnya] yang
besar dalam kebudayaan patriakat dan agama patriakat juga. Dia pernah bercerita
pada saya: pernah melihat laki-laki bekerja di dapur [bukti—rumah masakan
Padang yang memasak adalah laki-laki—tentunya belajar di rumah dahulu], melihat
ibuk-ibuk membawa cangkul pergi ke sawah, mengetahui seorang perempuan jadi
pemimpin perang melawan penjajah [Rasuna Said], pernah membaca tentang seniman
perempuan patung pertama [Huriah Adam--karyanya monumen di kota Bukittinggi],
dia ikut mendaki gunung bersama teman laki-lakinya dengan sepengetahuan orang
di sekitarnya. Intinya, dia menyadari kodrat perempuan bukan hasil dari
streotipe-streotipe bentukan kaum-kaum patriakat dan tidak pernah
merasa/mengalami “ketersudutan’ karena jenis kelaminnya.
Karena Pika tumbuh /besar di wilayah yang telah terbentuk
equality gender sejak sebelum RA Kartini muncul inilah yang membuat dia merasa
tidak ada kepentingannya membicarakan persoalan gender lagi, bukan hanya
sekedar tidak mau mengikuti arus seniman perempuan lainnya. Selain dia telah
merasa tidak ada kepentingannya terhadap isu feminist (sosio-cultural). Agamapun
juga bukan, karena dia merasa dalam agamanya siapa yang tidak mengerti kepintaran
Muhammad SAW—jauh lebih cerdas dari Pika, ketidak pentingannya muncul lagi.
Kendati demikian, apakah sebagai seniman dalam pemilihan
konsep berkarya harus yang dialami saja? Tentu tidak, banyak seniman selain hal
empirikal juga berdasarkan ketertarikan terhadap suatu fenomena tertentu--empati,
dan berbagai macam banyak alasannya, tak terkecuali seniman-seniman saya
sebutkan sebelumnya. Sebagai misal lain, Andy Warhol, however art critics rightly see deeper meaning in Warhol’s work. In
many respects this art can tell us more about the psychological satate of
society of mass media and mass production than any amount of socoliogical
research.[2]
Dia lebih melihat kondisi psycologis masyarakat serta penggambaran
bagaimana mass media memproduksi imej-imej, dengan power of repetition mengungkapkan tangannya bisa juga bekerja
seperti mesin-mesin mass media tersebut. Contoh lainnya, setiap negara yang
terjajah perkembangan senirupa modernnya dimulai dengan issue-issue
Nasionalisme, termasuk Indonesia.
Semuanya menutut kecerdasan dan kemampuan seniman untuk
memilih—apalagi seniman saat ini yang hidup pada masa ‘sisa-sisa’ moyangnya…
***
Bagaimana dengan pilihan Pika?
Pengalaman hidupnya turut membentuk dia untuk memilih, hidup
dari sistem kebudayaan matriakat yang minoritas di dunia, pilihan musik yang
minoritas. Ketika teman-teman seumuranya memilih mendengarkan Lady Gaga, dia
malah mendengarkan Bjork, lebih memilih Frau daripada melly Guslow, apalagi
Efek Rumah Kaca ketika Samsons booming, begitu seterusnya. Hal-hal ini jugalah
yang membuat dia tidak tertarik pada suatu yang ideal (baca-mainstream).
Saya memilih keadaan tidak ideal dalam
landasan pemikiran, karena hal-hal ideal telah ‘menjajah’ yang tidak ideal dan
sering dianggap tidak penting (besar hendak menindih). Pada dasarnya cap
tersebut cuma bentukan manusia. (Pika)[3]
Fight or Flight--Hadapi
atau kabur, reaksi ini yang saya rasa cocok dengan pilihan Pika. ketika lukisan
telah menjadi ‘mainstream’ dalam senirupa, dia menghadapi (counter) dengan
lukisan tidak memilih (kabur) dengan media lain, di sisi lain video art (new
media) sudah mulai menjamur dia juga berbicara melalui video tersebut. Saat ini
jika kita melacak kecendrungan seniman Indonesia menggunakan pengucapan realis
dia tidak meninggalkan kemampuan ‘realisnya’. Juga, bahasa non-representatif
dia juga menggunakannya. Pengucapan tersebutlah yang dikombinasikan dalam
karyanya.
Terserah apa pilihan medium seniman
yang terpenting konsepnya bisa tertuang. Jika dikatakan lukisan dibuat oleh
seniman “penghibur dunia” atau seniman “selebritas”, lukisan tidak
kontemporer—tapi kok ada lukisan kontemporer (kata-kata ini sering muncul
setiap diskusi senirupa di tanah air—terbaru di IVAA). Mungkin kita tidak cocok
mengatakan; seniman penghibur, selebritas, tidak kontemporer dengan alasan
pilihan medium, karena senirupa bukan hanya perkara medium tapi juga perkara
otak (pikiran)[4]
Anton Rais Makoginta,
Penulis Independen
FIKA RIA SANTIKA:
Pengalaman Perasaan, Fikirkan dan Eksekusi
Sejalan dengan tajuk pemeran “[space]”, ia menyiratkan
secara samar berdasarkan kondisi ruangan pameran yang kosong ia memikirkan
untuk diisi dengan apa dan ditata bagaimana ruang tersebut. Seperti tulisan
ini, saya melanjutkan dengan kata-kata berikutnya setelah ada spasi (space)
sebelumnya, dicari kata-kata yang cocok, dapat dibayangkan jika kata-kata sama
dari awal sampai akhir dan tidak adanya spasi dalam tulisan ini, saya sendiri
akan bingung, apalagi Anda malah tambah mumet
membacanya.
Banyak lagi persoalan keseharian yang berkaitan dengan
[space] tersebut, akan tetapi berdasarkan yang telah saya ceritakan di atas
saja sudah banyak pengertian yang dapat ditarik. Misalnya, ruang dalam artian
sebenarnya seperti ruang pameran, ruang antara yang terdapat dari satu kata ke
kata selanjutnya dalam sebuah tulisan. Pun kalau masih merasa kurang, saya
tambahkan. Dalam berbagai referensi seni rupa, kita sering mendapati seniman A
berkarya berdasarkan konsep tertentu; sosial-politik, agama, fenomena feminist,
mass media, kemelaratan bangsa bekas jajahan. Juga seniman B atas penaklukan
material, penggalian bentuk-bentuk artifisial, praktek presentasi karya
(ekshibitif) yang mematangkan pasar, kurator. Pendeknya, ada yang dihantam,
ditampar, dimarahi, dimusuhi dan juga dibela dengan penuh semangat.
Berkemungkinan ruang antara ini lah salah satu yang dimaksud oleh Santika (?).
Sebelum cerita ini lebih lanjut, berhubung Santika adalah
seniman perempuan, saya rasa tidak ada salahnya menerka kebiasaan seniman
perempuan selama ini. Untuk itu saya sedikit melacak jejak perkembangan seniman
perempuan yang telah ada rata-rata kecenderungan mereka mengikuti arus
pemikiran fenomena feminist. Barbara Kruger, Lynda Benglis, Louise Bourgeois,
Shigeko Kubota, Jenny Saville (b;1970) salah satu perupa portraiture perempuan,
mengaji tubuh berdasarkan pandangan feminist dengan penggambaran tubuh
perempuan yang “dirusak” sehingga menimbulkan kesan jijik atau menakutkan.
Walaupun kerjanya kurang lebih sama dengan Cindy Sherman (b;1954)—secara
konsep—lebih dahulu dari Saville. This
may in part be a feminist phenomenon, a reaction againts centuries of painting
the female nude by men for the delection of other men. Obesity is the shock
tactic she uses to force viewers into an examination of convetional notions of
female beauty. Concepts relating to desired streotypes of the female beauty…
[1]
Serta jejak seniman dan sastrawati(perempuan) di Indonesia
tetap berdasarkan perspektif perempuan (persoalan gender); Nh. Dini, Djenar
Mahesa Ayu, Tita Rubi, I G K Murniasih, Arahmaini , Bunga Jeruk, Laksmi
Shitaresmi, dan masih banyak perempuan lainnya. Seniman tersebut ada yang masih
berlanjut sampai sekarang membahas gender serta ada pula dalam bentuk lain.
Ada perlunya kita mengenal Santika terlebih dahulu, guna
mencari faktor yang membuat ia tidak ikut larut dalam persoalan gender tersebut
dan nantinya turut membentuk pemikiran serta strategi visual karyanya. Ia tiga
tahun belakangan ini berkarya di Jogja, dulunya lahir dan besar di Minangkabau,
saya mengetahui di sana kebudayaan dengan sistem matriakat telah menyatu dengan
kedatangan beberapa agama yang berdasarkan patriakat, terakhir agama Islam yang
mampu selaras dengan kebudayaan setempat.
Berdasarkan kebudayaan dan agamanya telah membentuk
kesetaraan (equality) gender di sana, dengan kata lain ia tidak mengalami
perlakuan-perlakuan terhadap perempuan seperti umumnya perempuan yang besar
dalam kebudayaan patriakat dan agama patriakat juga. Ia pernah bercerita pada
saya: melihat laki-laki bekerja di dapur [bukti—rumah masakan Padang yang
memasak adalah laki-laki—tentunya belajar di rumah dahulu], melihat ibuk-ibuk
membawa cangkul pergi ke sawah, mengetahui seorang perempuan jadi pemimpin
perang melawan penjajah [Rasuna Said], pernah membaca tentang seniman perempuan
patung pertama di Indonesia [Huriah Adam--karyanya monumen di kota Bukittinggi][2],
ia ikut mendaki gunung bersama teman laki-lakinya dengan sepengetahuan orang di
sekitarnya. Intinya, ia menyadari kodrat perempuan bukan hasil dari
streotipe-streotipe bentukan kaum-kaum patriakat dan ia juga tidak pernah
merasa/mengalami “ketersudutan” karena jenis kelaminnya. Jika Santika mencoba
untuk berada di ruang antara, artinya ia tidak mungkin mengikuti arus yang
telah dibentuk oleh seniman perempuan sebelumnya – gender.
[1]
Robin Gibson, Painting The Century: 101
portrait masterpieces 1900-2000, p.252
[2]
Erfahmi, Tesis : Perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat, 2009.
Besar Hendak
Menindih
Menyontoh apa yang dikerjakan ibu sangat wajar bagi bayi
yang baru lahir, kadang kala setelah dewasa bisa jadi berbeda ataupun malahan
[mungkin] sama dengan ibunya. Dan sangat mengherankan jika orang di generasi
berbeda (Ibu-Anak) bisa persis sama di zaman yang berbeda pula. Begitu juga
ketika kita memasuki “dunia baru” lainnya. Senirupa misalnya, awal-awal
mengenal senirupa menyontoh sang guru serta seniman lainnya saya rasa sangat
wajar, setelah dijalani beberapa tahun masih menyontoh berarti ada yang salah
dengan perkembangan kesenian seniman tersebut.
Untuk itu saya sedikit melacak jejak perkembangan seniman
perempuan selama ini, saya melihat ada kecenderungan mengikuti arus pemikiran
fenomena feminist. Jenny Saville (b;1970) salah satunya sebagai perupa
portraiture perempuan, mengaji tubuh berdasarkan pandangan feminist dengan
penggambaran tubuh perempuan yang “dirusak” sehingga menimbulkan kesan jijik
atau menakutkan. Walaupun kerjanya kurang lebih sama dengan Cindy Sherman (b;1954)—secara
konsep—lebih dahulu dari Saville. This
may in part be a feminist phenomenon, a reaction againts centuries of painting
the female nude by men for the delection of other men. Obesity is the shock
tactic she uses to force viewers into an examination of convetional notions of
female beauty. Concepts relating to desired streotypes of the female beauty…
[1]
Serta jejak seniman dan sastrawati [perempuan] di Indonesia
tetap berdasarkan perspektif perempuan juga (persoalan gender); Nh. Dini,
Djenar Mahesa Ayu, Tita Rubi, I G K Murniasih, Arahmaini , Bunga Jeruk, Laksmi
Shitaresmi, dan masih banyak perempuan lainnya. Seniman tersebut ada yang masih
berlanjut sampai sekarang membahas gender serta ada pula dalam bentuk lain.
Fika Ria Santika (panggil--Pika), mencoba untuk tidak
mengikuti arus yang telah dibentuk oleh seniman perempuan [gender] sebelumnya.
Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi saya, apakah dia hanya sekedar tidak mau
mengikuti arus utama (mainstream) bikinan seniman perempuan sebelumnya? Atau ada
faktor lain yang membuat dia tidak ingin berbicara perihal gender dari
perspektif dia sebagai perempuan?
Ada perlunya kita mengenal Pika terlebih dahulu, guna
mencari faktor yang membuat dia tidak ikut larut dalam persoalan gender
tersebut dan nantinya turut membentuk pemikiran serta strategi visual karyanya.
Pika dua tahun belakangan ini berkarya di Jogja (sambil kuliah di ISI), dulunya
lahir dan besar di Minangkabau, saya mengetahui di sana kebudayaan dengan
sistem matriakat telah menyatu dengan kedatangan beberapa agama yang
berdasarkan patriakat, terakhir agama Islam yang mampu selaras dengan
kebudayaan setempat [dialami oleh Pika].
Jadi kebudayaan dan agamanya telah membentuk kesetaraan
(equality) gender di sana, dengan kata lain dia tidak mengalami perlakuan-perlakuan
terhadap perempuan seperti umumnya perempuan [saya sebutkan sebelumnya] yang
besar dalam kebudayaan patriakat dan agama patriakat juga. Dia pernah bercerita
pada saya: pernah melihat laki-laki bekerja di dapur [bukti—rumah masakan
Padang yang memasak adalah laki-laki—tentunya belajar di rumah dahulu], melihat
ibuk-ibuk membawa cangkul pergi ke sawah, mengetahui seorang perempuan jadi
pemimpin perang melawan penjajah [Rasuna Said], pernah membaca tentang seniman
perempuan patung pertama [Huriah Adam--karyanya monumen di kota Bukittinggi],
dia ikut mendaki gunung bersama teman laki-lakinya dengan sepengetahuan orang
di sekitarnya. Intinya, dia menyadari kodrat perempuan bukan hasil dari
streotipe-streotipe bentukan kaum-kaum patriakat dan tidak pernah
merasa/mengalami “ketersudutan’ karena jenis kelaminnya.
Karena Pika tumbuh /besar di wilayah yang telah terbentuk
equality gender sejak sebelum RA Kartini muncul inilah yang membuat dia merasa
tidak ada kepentingannya membicarakan persoalan gender lagi, bukan hanya
sekedar tidak mau mengikuti arus seniman perempuan lainnya. Selain dia telah
merasa tidak ada kepentingannya terhadap isu feminist (sosio-cultural). Agamapun
juga bukan, karena dia merasa dalam agamanya siapa yang tidak mengerti kepintaran
Muhammad SAW—jauh lebih cerdas dari Pika, ketidak pentingannya muncul lagi.
Kendati demikian, apakah sebagai seniman dalam pemilihan
konsep berkarya harus yang dialami saja? Tentu tidak, banyak seniman selain hal
empirikal juga berdasarkan ketertarikan terhadap suatu fenomena tertentu--empati,
dan berbagai macam banyak alasannya, tak terkecuali seniman-seniman saya
sebutkan sebelumnya. Sebagai misal lain, Andy Warhol, however art critics rightly see deeper meaning in Warhol’s work. In
many respects this art can tell us more about the psychological satate of
society of mass media and mass production than any amount of socoliogical
research.[2]
Dia lebih melihat kondisi psycologis masyarakat serta penggambaran
bagaimana mass media memproduksi imej-imej, dengan power of repetition mengungkapkan tangannya bisa juga bekerja
seperti mesin-mesin mass media tersebut. Contoh lainnya, setiap negara yang
terjajah perkembangan senirupa modernnya dimulai dengan issue-issue
Nasionalisme, termasuk Indonesia.
Semuanya menutut kecerdasan dan kemampuan seniman untuk
memilih—apalagi seniman saat ini yang hidup pada masa ‘sisa-sisa’ moyangnya…
***
Bagaimana dengan pilihan Pika?
Pengalaman hidupnya turut membentuk dia untuk memilih, hidup
dari sistem kebudayaan matriakat yang minoritas di dunia, pilihan musik yang
minoritas. Ketika teman-teman seumuranya memilih mendengarkan Lady Gaga, dia
malah mendengarkan Bjork, lebih memilih Frau daripada melly Guslow, apalagi
Efek Rumah Kaca ketika Samsons booming, begitu seterusnya. Hal-hal ini jugalah
yang membuat dia tidak tertarik pada suatu yang ideal (baca-mainstream).
Saya memilih keadaan tidak ideal dalam
landasan pemikiran, karena hal-hal ideal telah ‘menjajah’ yang tidak ideal dan
sering dianggap tidak penting (besar hendak menindih). Pada dasarnya cap
tersebut cuma bentukan manusia. (Pika)[3]
Fight or Flight--Hadapi
atau kabur, reaksi ini yang saya rasa cocok dengan pilihan Pika. ketika lukisan
telah menjadi ‘mainstream’ dalam senirupa, dia menghadapi (counter) dengan
lukisan tidak memilih (kabur) dengan media lain, di sisi lain video art (new
media) sudah mulai menjamur dia juga berbicara melalui video tersebut. Saat ini
jika kita melacak kecendrungan seniman Indonesia menggunakan pengucapan realis
dia tidak meninggalkan kemampuan ‘realisnya’. Juga, bahasa non-representatif
dia juga menggunakannya. Pengucapan tersebutlah yang dikombinasikan dalam
karyanya.
Terserah apa pilihan medium seniman
yang terpenting konsepnya bisa tertuang. Jika dikatakan lukisan dibuat oleh
seniman “penghibur dunia” atau seniman “selebritas”, lukisan tidak
kontemporer—tapi kok ada lukisan kontemporer (kata-kata ini sering muncul
setiap diskusi senirupa di tanah air—terbaru di IVAA). Mungkin kita tidak cocok
mengatakan; seniman penghibur, selebritas, tidak kontemporer dengan alasan
pilihan medium, karena senirupa bukan hanya perkara medium tapi juga perkara
otak (pikiran)[4]
Anton Rais Makoginta,
Penulis Independen